Pemaparan Aktualisasi Nilai-nilai Budaya Spiritual Bagi Guru Dan Orang Tua Murid Di Hotel Grand Setia Kawan Solo Tgl. 19 Mei 2010

Kata  Pengantar

  

Salam  Rahayu ,

Pertama – tama marilah kita bersama – sama memanjatkan puja dan puji ke hadlirat Tuhan Yang Maha Esa dengan rasa Ikhlas , bahwa atas Rahmat dan Hidayah – Nya pada hari ini kita semuanya dapat bertemu dan berkumpul di dalam pertemuan perihal “ Aktualisasi Nilai – nilai Budaya Spiritual “ yang diprakarsai oleh Dinas Dikpora Kota Surakarta dengan keadaan segar bugar dan tiada halangan sesuatu apapun , Selamat dan Sejahtera .

Dengan segala kerendahan hati di sertai dengan permohonan maaf bilamana apa yang kami sajikan ini kurang berkenan di benak dan hati para pembaca . Namun dengan segala ketulusan hati kami selaku penulis untuk berusaha mengungkapkan kembali buah fikir dari tokoh – tokoh budaya maupun tokoh – tokoh spiritual kita yang berkaitan dengan perikehidupan masyarakat penghayat kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa itu  .

Memang kami mengakui bahwa apa yang telah di jelaskan baik di dalam GBHN , kepustakaan , buku – buku lainnya yang mengungkapkan tentang kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa masih belum jelas , bahkan kadang – kadang terasa membingungkan bagi yang telah membacanya .

Di dalam kesempatan yang bahagia ini kami akan berusaha untuk dapat memaparkan suatu nilai nilai Budaya yang Adhi Luhung dalam kepercayaan terhadap Tuhan YME itu , yang seterusnya  akan berkaitan dengan beberapa pengertian dari segi budaya , segi penghayatan , segi Filsafat , segi peraturan yang berlaku , segi esoterisnya , segi perilaku penghayatannya sebagai hasil  penghayatan , maupun segi – segi lainnya yang dapat memperjelas pengertian kepada kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa .

Karena tanpa adanya penjelasan yang memadahi , maka akan dikuatirkan bahwa kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan suatu kepercayaan yang bersifat animistis. Demikian juga kami menyadari sepenuhnya bahwa apa yang telah kami sajikan ini tentunya masih belum sempurna dan oleh karena itu segala tegur sapa , saran dan kritik demi kesempurnaan  buku paparan kecil ini akan kami terima dengan sepenuh hati  .

Semoga buku paparan kecil ini dapat memberikan manfaat bagi kita semuanya . Amien .

NILAI – NILAI BUDAYA
DALAM
KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YME .

1 . Pendahuluan .

Sungguh suatu kebahagiaan apabila seseorang mau berfikir bahkan mau merenung sejenak betapa besarnya karunia Tuhan yang diberikan kepada umatnya manusia . Merenung sejenak merupakan suatu kegiyatan yang membutuhkan kesadaran tinggi secara ihlas bagi si pelaku untuk dapatnya memahami dan mengerti bahkan menghayati segala sesuatu di alam semesta ini tidak sekedar gejalanya namun lebih jauh sampai kepada hakekatnya . Sebab kita pada umumnya lebih tertarik kepada segala sesuatu yang tampak di muka kita hanya dari fenomenanya saja bukan dari hakekatnya.. Oleh karena itu , melalui kesempatan yang berbahagia ini kami akan mengajak para peserta pertemuan ini untuk bersama – sama mengikuti jalan pemahaman kami dari arah yang paling sederhana atau konkrit sampai kepada arah pemikiran yang Abstrak .

Dan merupakan suatu kebahagiaan bagi bangsa Indonesia yang telah melahirkan “ Bapak Bangsa “ atau Founding Fathers yang penuh dengan kearifan dan kecerdasan telah menetapkan PANCASILA  sebagai dasar , ideologi , falsafah serta pandangan hidup bangsa Indonesia . Betapa tidak kita perkirakan bagaimana mereka telah dapat mengantisipasi keadaan yang dapat kita lihat pada dewasa ini tentang pluralisme , baik etnis , keyakinan , daerah serta berbagai pandangan yang tidak mungkin dipersatukan kecuali oleh Pancasila . Tidak berkelebihan kiranya kami sebutkan di sini bahwa berkat Pancasila inilah maka bangsa Indonesia yang penuh dengan pluralisme di segala aspek dapat dipersatukan sebagai suatu bangsa besar dalam rangka menuju pembangunan manusia seutuhnya . Persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia ini pada hakekatnya berasal dari adanya Sumpah Pemuda yang telah dicetuskan pada Tgl. 28 Oktober 1928 , dimana  pemuda – pemudi kita telah  bersumpah untuk bertanah air satu yaitu tanah air  Indonesia , satu bangsa yaitu Bangsa Indonesia  dan berbahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia . Lebih jauh perlu di kemukakan bahwa pada hakekatnya Sumpah Pemuda itu dicetuskan karena adanya satu Rasa Kebangsaan tanpa membeda – bedakan adanya perbedaan baik keyakinan , etnis maupun daerah .

Di dalam kesempatan yang berbahagia ini , perlu kami kemukakan bahwa sebelum agama  agama baik Hindu , Budha , Kristen , Katholik , Kristen Protestan dan Islam masuk ke Indonesia , bangsa Indonesia telah memiliki suatu keyakinan yang mantab kepada Tuhan Yang Maha Esa . Keyakinan kepada adanya Tuhan Yang Maha Esa ini lebih dikenal dengan istilah monotheisme kultural . Dengan adanya suatu keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa itu , maka timbullah suatu kesadaran bahwa manusia sebagai ciptaan Tuhan merupakan suatu Makhluk yang serba sangat terbatas di hadapan Tuhan ,Yang Maha Tak Terbatas . Kesadaran dan keterbatasan manusia tersebut menimbulkan kesadaran akan ketergantungannya kepada Sang Pencipta . Dan kesadaran akan  ketergantungan itu menumbuhkan suatu kebiasaan untuk tunduk , takluk , pasrah  serta menaati petunjuk serta bimbingan – Nya . Kebiasaan tersebut diatas  menumbuhkan suatu  nilai – nilai  Kebudayaan yang senantiasa ingin memahami , meneliti , memikirkan , merenung serta menghayati segala sesuatu yang tampak di alam semesta ini untuk kembali kepada Kebesaran dan Kemaha Agungan Sang Pencipta .

Dari hasil  perenungan itu , maka manusia mulai  berpikir serta bertanya – tanya  :

  • Siapakah kita ini ?
  • Dari manakah asal kita ini ?
  • Kemanakah kita nantinya ?
  • Apakah alam semesta ini  ada hubungannya dengan kita ?
  • Apakah artinya kehidupan itu , dan bagaimana cara kita hidup ?
  • Apakah artinya kematian itu , dan apakah kematian itu merupakan akhir dari segala  galanya atau hanya proses dari suatu rangkaian proses ?

2. Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa .

Untuk sedikit memahami pengertian tentang hal Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa  marilah kita bersama – sama menengok pidato suatu Kenegaraan Presiden R.I. Soeharto di depan sidang DPR tanggal. 18 Agustus 1978 , dimana beliau telah menyatakan sebagai berikut :

Bahwa Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang dalam kenyataanya memang merupakan bagian dari KEBUDAYAAN NASIONAL kita . Kepercayaan terhadap Tuhan YME bukan Agama dan juga bukan Agama baru . Karena itu tidak perlu dibandingkan , apalagi di pertentangkan dengan Agama . Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah kenyataan Budaya yang hidup dan di hayati oleh sebagaian bangasa kita . Pada dasarnya Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu merupakan Warisan dan Kekayaan  Bathiniyah  atau Rokhaniyah  rakyat  kita . Kita tidak dapat memungkiri begitu saja , akan tetapi kita pun menyadari bahwa dalam pertumbuhannya pernah terjadi suatu dua aliran Kepercayaan yang berkembang tidak selaras dengan Landasan falsafah negara kita . Dalam pada itu kita pun menyadari bahwa perkembangan kepercayaan – kepercayaan tersebut jangan sampai mengarah kepada pembentukan Agama baru .

Seterusnya pembinaan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa harus diarahkan kepada pembinaan Budi Luhur bangsa kita . Dalam pembinaan budi luhur itu jelas tercakup pembinaan sikap Taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan rasa hormat terhadap Agama yang di anut para penghayat kepercayaan terhadap Tuhan YME , sehingga makin kuatlah rasa keagamaan mereka . Istilah kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa terdapat di dalam Tap MPR nomor II/MPR/1978 tentang GBHN . Sebelumnya dikenal istilah Kebathinan , Kejiwaan dan Kerokhanian .

3. Pengertian Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa .

Penghayat adalah penganut yang melaksanakan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan kesadaran yang seutuhnya hingga kedalam bathin , jiwa dan rohani . Jadi singkatnya seorang penghayat adalah orang yang menghayati ( mengalami , merasa dalam bathin ) kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa . Yang penting di sini bukan saja adanya rasa percaya , akan tetapi lebih jauh lagi yaitu bagaimana rasa percaya itu di lanjutkan dengan suatu proses penghayatan yang  terus menerus sampai ke lubuk hati yang terdalam . Dan proses penghayatan itu berjalan dengan baik , apabila kesadaran itu terlepas dari kesadaran akal pancaindra . Jadi apabila kesadaran berpikir serta kesadaran pancaindra masih berjalan , maka proses penghayatan itu tidak akan terjadi  ( meresap ke dalam bathin ) .

4.Pengertian  Aliran Kepercayaan Masyarakat .

Menurut penjelasan Jaksa Agung R.I. Pada Musyawarah Nasional V Himpunan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Kaliurang – Yogyakarta , aliran masyarakat meliputi :

  • Aliran Kepercayaan masyarakat yang bersumber kepada wahyu kitab – kitab suci yang berwujud / berbentuk aliran – aliran keagamaan , meliputi sekte – sekte keagamaan , dan pengelompokan jemaah keagamaan .
  • Aliran Kepercayaan masyarakat yang bersumber kepada Budaya Luhur Bangsa Indonesia yang mengandung nilai – nilai luhur dan telah membudaya dalam masyarakat sebagai hasil penalaran daya cipta , karsa dan rasa manusia , yang berbentuk / berwujud kepercayaan budaya , meliputi aliran kebathinan , kejiwaan , kerokhanian / kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa  .
  • Aliran – aliran mistik keagamaan atau budaya , perdukunan , para normal , peramalan , metafisika , kanuragan dsb .
  • Aliran – aliran yang bersumber pada adat Cina ( Klenteng ) . ( 1 ) .

5.  Beberapa pengertian kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa .

     Pengertian Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dapat dijelaskan melalui beberapa
     Pengertian :

  • Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tidak merupakan Agama dan tidak mengarah kepada pembentukan agama baru .
  • Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa bukanlah filsafat dalam arti produk olah pikir .
  • Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah pernyataan dan pelaksanaan hubungan pribadi dengan Tuhan Yang Maha Esa .
  • Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa ialah sumber rasa dan kemauan untuk mencapai kebenaran , kenyataan , kesempurnaan dan kebahagiaan hidup .
  • Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa  sebagai suatu metode pendekatan diri terhadap Tuhan Yang Maha Esa .
  • Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan Indentitas ( Jatidiri ) di dalam Kebudayaan Nasional kita  .
  • Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa lebih mementingkan hal – hal yang bersifat bathiniyah atau rokhaniyah .
  • Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai Ngelmu
  • Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa memberikan ruang serta kesempatan untuk menghayati dan mengalami banyak berbagai ungkapan – ungkapan supra rasional (atau ) Ghaib .

6.  Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tidak merupakan agama dan tidak mengarah kepada pembentukan agama baru , dalam arti bahwa indentitas tuntunan yang dianut adalah produk interaksi bebas dalam menghayati keterlibatan atau keterjalinan hubungan dan keterkaitan atau ketergantungan hidup manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa  ( 2 )

7.  Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa bukanlah filsafat dalam arti produk olah pikir.Ia dihayati melalui pemusatan kesadaran yang utuh atau penghayatan budaya spiritual dalam pernyataan diri sepenuhnya terhadap Tuhan Yang Maha Esa , hingga memperoleh tuntunan – Nya dalam wujud perilaku pribadi yang disertai hukum serta ilmu yang mengelola sikap penghayatan rohani , dan pelaksanaan serta pengamalannya dalam kehidupan pribadi dan sosial  kemasyarakatan .

8.   Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah pernyataan dan pelaksanaan hubungan pribadi dengan Tuhan Yang Maha Esa , berdasarkan keyakinan yang di wujudkan dengan prilaku ketakwaann terhadap Tuhan Yang Maha Esa atau peribadatan serta pengamalan budi luhur . Perumusan ini adalah hasil Sarasehan Nasional Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa pada tahun 1981 di Jakarta . ( 3 )

9. Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa ialah sumber rasa dan kemauan untuk mencapai kebenaran , kenyataan , kesempurnaan dan kebahagiaan hidup . Perumusan ini adalah perumusan dari M.As’ad El – Hafidy di dalam bukunya “ Aliran – aliran Kepercayaan dan Kebathinan di Indonesia “ . Menurut M.As’ad aliran Kepercayaan merupakan suatu faham dogmatis , terjalin dengan adat istiadat hidup dari berbagai macam suku bangsa , lebih – lebih pada suku bangsa yang masih terbelakang . Pokok keperayaan apa saja adat hidup nenek moyang sepanjang masa . ( 4 ) .

10. Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa  ialah  semua  pikiran atau tindakan yang  berdasar  kekuatan  Ghaib ( supra natura ) yang  mencari  dan  ingin  mengetahui  kenyataan  di  belakang fenomena alami . ( 5 )

Mr. Wongsonegoro , pada Konggres Kebatinan ke.II di Surakarta pada tahun 1956 , mengulangi keterangannya yang pernah diberikan dalam suatu Konprensi Pers sebelumnya  “ Gerakan kebathinan bukanlah suatu Agama baru yang akan mendesak agama – agama yang sudah ada , akan tetapi Kebathinan , bahkan akan memperdalam atau Sublimeren agama – agama yang sudah  ada “

  • Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa  sebagai suatu metode pendekatan diri  terhadap Tuhan Yang Maha Esa ,

Adapaun sebagai suatu metode pendekatan diri terhadap Tuhan Yang Maha Esa , dapat kita simak kembali pernyataan Bapak. Soeharto di dalam bukunya … “ Soeharto , Pikiran dan Tindakan Saya “ di mana beliau menyatakan sbb : Sesuai dengan peninggalan Nenek Moyang kita , ilmu kebathinan itu adalah untuk mendekatkan diri kita kepada Tuhan , mendekatkan batin kepada – Nya . Itu antara lain berdasarkan ilmu Kasunyatan , ilmu Sangkan paraning dumadi , dan ilmu kasampurnaning urip . Itulah kebathinan yang sebenarnya . Orang kadang – kadang salah kaprah mengira ilmu kebathinan itu adalah Ilmu Klenik . ( 6 )

  • Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan indentitas ( Jati Diri ) di dalam Kebudayaan Nasional .

Sebagaimana telah di uraikan terdahulu bahwa Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah warisan kekayaan rohaniah yang hidup dan di hayati oleh sebagaian bangsa kita Dan sebagai warisan kekayaan rohaniah , ia merupakan Budaya Tradisional bangsa kita yang memiliki  Nilai – nilai luhur Budaya Bangsa . Di dalam pembangunan nasional yang sedang kita laksanakan bersama , maka “ To be or not to be “ kita menghadapi sebuah kewajiban besar yaitu melestarikan dan mengembangkan budaya tradisional di satu pihak dan membangun kebudayaan nasional yang modern di lain pihak . Nilai – nilai Budaya Tradisional merupakan “ Inti “ ( cultural core ) dalam pengembangan Budaya Nasional .

Inti budaya ini akan memberikan “ Jati Diri “  ( indentitas ) terhadap budaya nasional . Dalam proses sosialisasi manusia Indonesia , nilai – nilai inti tersebut akan memberikan corak atau warna jati diri terhadap Masyarakatnya . Dengan demikian generasi muda kita akan tumbuh dari akar ( root ) budaya bangsa sendiri , mereka terhindar dari kehidupan tanpa akar (rootless) dan suasana terasing ( alienasi ) dari masyarakat dan budaya bangsanya .

Pelestarian warisan budaya bangsa bukan merupakan usaha untuk membawa kembali masyarakat kita kekoridor  Sejarah masa lalu , tetapi untuk menemukan Jati Diri sendiri . Bahwa mereka bukan suatu bangsa yang lahir dari tumpukan kebudayaan “ manusia yang kolot “ ( underdog ) , akan tetapi dari suatu budaya yang pernah mengukir Sejarah Peradaban Bangsa yang besar di dunia ini . Keyakinan historis  ini secara psikologis tidak hanya akan memberikan kebanggaan , akan tetapi juga kesetiaan untuk mempedomani kearifan masa silam , mereka mempertahankan nilai – nilai luhur ,  dan memelihara tradisi besar bangsanya . ( 7 ) .

Memang dalam  perjalanan Sejarah Indonesia  bahwa pada zaman Majapahit yang di kenal sebagai zaman  keemasan Nusantara , wilayah Majapahit lebih luas dari wilayah NKRI sekarang , dan zaman Majapahit kita sudah memiliki Indentitas ( kepribadian ) , sebagaimana terwujud dalam semboyannya “ Bhimeka Tunggal Ika , Tan Hana Dharma Mangrwa ( berbeda – beda namun satu , tak ada darma mendua ) yang berasal  dari Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular . Pada zaman Majapahit juga telah memiliki Merah – Putih  bendera pusaka yang di pakai sebagai bendera kebangsaan dari dahulu hingga sekarang , masing – masing wilayah di zaman Majapahit di ceriterakan memiliki kemerdekaan untuk mengembangkan diri , asal masih dalam koridor kesatuan dan persatuan .

Termasuk dalam berbahasa , diberi kemerdekaan untuk mengembangkan bahasa daerahnya masing – masing , tidak di sebut secara jelas Lingua – fanca – nya ( bahasa umum , bahasa pergaulan ) tetapi patut diduga mereka menggunakan Bahasa Jawa ( kuna ) dan Bahasa Melayu  . Atas uraian tersebut dari waktu ke waktu tampak bahwa Indonesia  walaupun dari awal belum menamakan diri sebagai bangsa , tapi kita bangsa yang mempunyai Indentitas yaitu :

  • Di Zaman  Majapahit  dasar  kehidupannya menggunakan Budi  Pekerti Luhur , dengan sistem pemerintahan yang menggunakan ajaran Asthabrata .
  • Mengingat Majapahit menggunakan dasar budi pekerti luhur , maka Majapahit dihormati dan di segani oleh Kerajaan dan negara sekitarnya .
  • Budayanya bersumber dari nilai – nilai Ketuhanan , yang menjamin  kedamaian , ketentraman , keselamatan , kebahagiaan dan kesejahteraan hidup .

Demikian sedikit Sejarah zaman keemasannya Majapahit  yang merupakan sebagai  bukti dari awal perjalananya bangsa  menuju kepada Kemerdekaan Bangsa Indonesia .

13.Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa lebih mementingkan hal – hal yang bersifat  bathiniah  atau  rokhaniah .  Prof . Dr. Mukti Ali  menegaskan , salah  satu  sifat  dari   ilmu  kebatninan ialah sifat batin  yaitu sifat yang dipergunakan  sebagai  keunggulan  terhadap kekuatan lahir , peraturan dan  hukum yang diharuskan dari luar oleh pendapat umum . ( 8 )

      Kebathinan menurut Sufat M , berasal dari kata “ bathin “ dengan  mendapat  awalan  “ ke “  dan akhiran “ an “ . Kata bathin sendiri berasal dari bahasa Arab yang artinya adalah “ Yang tersembunyi “ . Kalau dunia yang nampak ini dianggap sebagai sesuatu yang nyata , yang benar , maka kebathinan adalah kebenaran di balik kebenaran atau kebenaran yang terdalam. Jadi kebenaran yang paling benar . ( 9 ) .

  • Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa  sebagai “ Ngelmu “ .
    •       
“ Ngelmu “  tidak dapat begitu saja di terjamahkan dengan   “ Ilmu “ . karena   ngelmu  me ngandung  sesuatu arti  “  Ajaran  Rahasia  “  ( esoteris ) untuk  pegangan  hidup .   Ngelmu  hanya dapat dicapai dengan Laku “ Yaitu laku Bathin “ atau jalan Rokhani  . Jalan  rokhani dalam bahasa Tassawuf di sebut Thoriqoh ( Menempuh perjalanan )  dan menjadi Tarekat  dan Tirakat  ( di jawakan ) . Adapun ikhtiar dan segala usaha dengan menempuh perjalanan bathin tersebut di sebut  “ Suluk “ . Sedangkan Suluk adalah Laku Tassawuf di Nusantara  /  Jawa  atau lebih tepat mistikisme Jawa .Karena  itu apa yang disebut  ngelmu adalah  pengetahuan  yang  bersifat  bathiniah  atau  rokhaniah  dan  bahasa  tassawuf  ngelmu   bathiniah  disebut  Ma’rifat . Dr.Hamka  menulis bahwa  “ Ma’rifat “  artinya  ujung  perjalanan   ilmu  Pengetahuan . ( 7 ) .

       Di dalam  serat Widatama , dimana di katakan :

       Ngelmu iku kalakone kanthi Laku .
       Lekase lawan Khas
       Tegese khas nyantosani
       Setya budya pengekesing dur angkara .

       Yang artinya :

        Ilmu ( ma’rifat ) itu baru dapat di katakan terlaksana jika penghayatannya disertai dengan
        Laku ( tarikat ) yang sungguh – sungguh itu  memberi kesentausaan  , yaitu  kesentausaan
        terhadap kesadaran sebagai sarana untuk memusnahkan nafsu jahat . ( 10 )

  • Kepercayaan terhadap Tuhan Yang  Maha Esa memberikan ruang dan kesempatan untuk menghayati dan mengalami berbagai ungkapan supra rasional atau Ghaib .
Namun menurut Ary Murty , S.E , selalu mengutamakan penempatan segenap ungkapan itu sesuai tingkat dan hubungannya dalam naungan kebesaran dan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa . Ungkapan supra rasional atau Ghaib atau kemampuan istimewa diperoleh dengan laku . Kemampuan istimewa ini biasa dianggap sebagai anugerah Tuhan , yang diberikan secara berangsur – angsur sesuai dengan laku yang di jalani itu .

Kemampuan istimewa ini dapat berupa 

    • Perasaan : misalnya merasakan kejadian di lain tempat , merasakan kehadiran makhluk  halus , merasakan keadaan misalnya berwawancara dengan bathin orang lain dsb .
    • Pendengaran : misalnya mendengar percakapan orang lain di tempat yang jauh , mendengar suara “ makhluk halus “ ,  mendengarkan suara bathin orang lain .
    • Penglihatan : misalnya melihat kejadian di lain tempat , melihat wujud  makhluk halus  , melihat 4 (empat) saudaranya sendiri .
    • Wawancara : misalnya berwawancara dengan  “ makhluk halus “  dan berwawancara  bathin orang lain .
    • Penciuman : misalnya mencium bau makhluk halus , mencium bau bathin orang lain .
      ( 11 ) .
  • Dalam rangka mencapai kebenaran  sejati , kasunyatan kesempurnaan dan kebahagiaan hidup , maka seorang penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa harus senantiasa  memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
    • Laku berupa  Sesirik , Semedi .

Bersemedi ( Dalam Islam di sebut Tafakkur ) ialah menyingkirkan dan menghentikan makartinya jiwa dan raga . Ma’rifat ( islam ) itu baru dapat di katakan terlaksana jika penghayatannya disertai dengan Laku ( tarikat ) yang sungguh – sungguh itu memberi kesentausaan , yaitu kesentausaan terhadap kesadaran sebagai sarana untuk  memusnahkan nafsu jahat . Dengan laku tersebut diatas , maka pada hakekatnya kita sudah dapat mengendalikan diri . Tanpa pengendalian diri ini , maka kita tidak mungkin dapat mencapai tahap keheningan .

  • Lebih menekankan kepada hakekat atau subtansi dari pada hal – hal yang bersifat lahiriah atau yang bersifat fenomena . Raganya boleh bersikap dalam keadaan  semedi akan tetapi kalau hati atau kalbunya belum menghadap kepada Tuhan Yang Maha Esa maka sia – sialah semedinya itu .
  • Bukan bentuk dan rumusan “ ajaran “, melainkan penghayatan bathin akan isi “ajaran “ itu , yang diusahakan dialami  dan dilaksanakan dalam kehidupan pribadinya . Bila kebathinan bertujuan mencari kebenaran , maka kebenaran itu dimengerti sebagai kasunyatan ,”  kebenaran yang di hayati , dialami dilaksanakan dan nyata terbukti dalam kehidupan “  ( 12 ) .
  • Lebih mementingkan rasa ( zauq ) atau pengalaman rohani , dari pada  ratio dan pengalaman lahiriah . Dengan rasa itulah akan dicapai rasa sejati , sejatining rasa . Rasa menurut Darmanto Yatman bisa berarti sembarang kalir . Ia berarti “ Hidup “ itu sendiri . Ia bisa berarti jiwa . Tetapi ia bisa pula berarti kesadaran akan rangsangan seperti bila seseorang merasakan sentuhan atau belaian . ( 13 )
  • Lebih mementingkan latihan – latihan kejiwaan atau lebih di kenal dengan “ Olah Bathin “ Dengan latihan kejiwaan secara teratur dan terus  menerus  secara berkesinambungan , maka akan melatih jiwa kita untuk secara sadar membersihkan kotoran bathin , yaitu berupa keserakahan , kebencian , kedengkian , amoral dan sifat  sifat tercela lainnya Sebab bagaimana kita dapat mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa , apabila jiwa atau bathin kita masih dilekati dengan kotoran – kotoran . Oleh karena itu penghayatan senantiasa melaksanakan latihan – latihan kejiwaan dalam rangka pembersihan jiwa atau bathin kita .
  • Adapun hakekat dari segala Laku , berupa Semedi , Tapa sesirik dan Laku – Laku yang bersifat mediatif itu adalah untuk mencapai Budi Pekerti Luhur . Apabila proses penghayatan kita lakukan secara benar dan sungguh – sungguh kepada Tuhan Yang Maha Esa . Out put  atau hasil dari pada penghayatan itu tentu akan mencapai Budi Pekerti Luhur ( Akhlakul  Kharimah ) . Kalau tidak demikian maka tentu proses penghayatannya yang tidak benar pula . Oleh karena itu untuk mendapatkan petunjuk tentang proses penghayatan yang benar , maka diperlukan seorang Guru Laku dan Guru laku itulah yang akan memberi petunjuk dan membimbing tentang Laku kita itu .

17 .  Dengan menjalankan segala Laku tersebut di atas secara benar dan bersungguh  –  sungguh
      maka  seorang  penghayat  kepercayaan  terhadap  Tuhan Yang Maha Esa  akan senantiasa
      mempunyai sikap , prilaku dan tingkah laku  sbb :

  • Mengawali perbuatan apa saja dengan keheningan bathin untuk memohon berkah kepada Tuhan YME .
  • Berusaha mengembangkan perilaku budi pekerti luhur ke arah terwujudnya masyarakat dunia yang aman , damai dan sejahtera ( Memayu Hayuning Bawono ).
  • Berserah diri dalam kesadaran dan keikhlasan penuh kepada kehendak dan kekuasaan Tuhan YME mencari ke Ridloan – Nya .
  • Mampu mawas diri serta mampu memberi contoh tauladan dalam membina kedamaian keluarga yang pancaran serta getarannya dapat menyentuh ke tetangga dll .
  • Mantab lahir bathin dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya .:

*  Ambeg Paramarta  , mengandung arti mampu memilih secara tepat mana
    yang terlebih dahulu harus di utamakan .
*  Prasaja ,  berarti berprilaku sederhana , tidak berlebih – lebihan .
*  Setya , mengandung makna setiya kepada pimpinan atau atasan serta kepada
    sejawatnya yang lebih tua dll.
*  Gemi nastiti , hidup hemat , mampu membatasi pengeluaran uang dan tidak
    hidup boros .
*  Belaka  ,  bermakna  terbuka / jujur  serta  bertanggung  jawab atas tindakan
    yang telah di lakukan .
*  Legawa , berarti untuk pada saatnya menyerahkan jabatan / kedudukan atau
    tanggung  jawab  kepada  penggantinya  ( generasi  penerusnya )  serta  mau
    menerima  apa – apa  yang  telah di usahakan , menerima  apa  yang  terjadi  
    pada diri sendiri .
*  Ketertiban , baik dalam menggunakan waktu maupun dalam mengatur
    barang miliknya .
*  Kerajinan , rajin melakukan kegiyatan , perbuatan yang bermanfaat .
 *  Ketulusan , hendaknya bersikap , berpikir dan berprilaku jujur , berbicara benar dan berbuat jujur .
*  Keadilan , senantiasa berbuat adil , tenggang rasa dan tepa salira .
 *  Ketenangan , selalu bersikap tenang , tidak mudah gugup dan takjub ..
*  Rendah hati , tidak sombong , tidak takabur , riya , ujub , tetapi juga tidak  minder .
*  Kesucian , menjaga kejernihan pikiran dan hati dari  pengaruh  hawa nafsu buruk hawa nafsu ( menjaga
nama baik ) .  

18. Kepercayaan. Terhadap Tuhan Yang  Maha Esa di dalam hubungannya dengan Kebudayaan  
kita .  

Sebagaimana telah kita ketahui bersama , bahwa kepercayaan terdap Tuhan Yang Maha Esa sebagai budaya lokal tentu saja lebih mudah di kenal , dihayati serta di amalkan oleh para penghayatnya . Karena dalam mengekspresikan bathin serta jiwanya lebih mudah apabila di lakukan dengan budaya , bahasa dan adat istiadat yang berlaku di daerahnya . Oleh karena itu seorang penghayat di dalam menghayati ajaran ketuhananya , maka dia juga  akan menghayati ciptaan – Nya , termasuk alam semesta beserta isinya . Maka dari itu seorang penghayat juga akan menghayati alam sekitarnya serta budayanya . Sehingga dapat dikatakan bahwa seorang penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah penghayat dan pengamal kebudayaan bangsa .

Di dalam kebudayaan kita tumbuhlah apa yang disebut monotheisme kultural , yaitu bahwa kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa merupakan bagian dari kebudayaan bangsa kita . Dengan mengalami kebesaran dan ke Maha Agungan Tuhan itulah , maka timbullah suatu kesadaran yang amat mendalam mengenai keterbatasan dunia , keterbatasan manusia serta ketergantungan dunia dan manusia itu di hadapan Tuhan Yang Maha Esa . Kesadaran akan keterbatasan manusia itu adalah amat penting di dalam perkembangan kebudayaan bangsa kita .

Bangsa kita menyadari bahwa manusia itu secara mendasar selalu dipengaruhi oleh kekuatan dan daya yang saling bertentangan , daya – daya yang baik di satu pihak dan daya daya yang tidak baik di lain pihak .  Manusia harus selalu mengadakan pilihan – pilihan , menempuh jalan yang baik , itulah menempuh jalan kebudayaan sedangkan memilih jalan sebaliknya berarti memilih jalan yang jauh dari kebudayaan . Untuk itu diajarkanlah usaha menjauhkan egoisme dalam segala bentuk . Itulah sebabnya maka penghayatan kepada Tuhan Yang  Maha Esa secara hakiki selalu terkait dengan ajaran melaksanakan budi pekerti kemanusiaan yang luhur , dimana manusia selalu memilih persatuan dari pada perpecahan persaudaraan dan dari pada permusuhan .

19. Budi pekerti di dalam hubungannya dengan kebudayaan .

Budi pekerti pada hakekatnya merupakan seperangkat petunjuk serta ajaran tentang buruk baiknya perbuatan manusia Budi pekerti merupakan suatu bentuk pendidikan tentang perkertinya manusia sebagai insan yang berbudi . Budi pekerti hanya ada pada diri manusia demikian pula halnya mengenai kebudayaan , ia juga hanya pada manusia . Budi pekerti merupakan bagian fungsional di dalam tumbuh dan berkembangnya kebudayaan . 

Kebudayaan merupakan seluruh usaha budi daya manusia mengembangkan diri sesuai dengan derajat kemanusiaannya itu Budi pekerti mengajarkan bagaimana  manusia berprilaku sesuai dengan derajat kemanusiaanya itu , di dalam naungan dan bimbingan Tuhan Yang Maha Esa .

20.  Cara mempelajari serta menghayati budi pekerti .

Budi pekerti itu tentu saja merupakan hasil pengamalan dan pendalaman mengenai hajat hidup dan kehidupan manusia , yang di lakukan oleh para leluhur kita , diajarkan baik secara lisan maupun secara tertulis dari generasi satu ke generasi berikutnya , terus menerus hingga sampai kepada kita saat ini . Mempelajari budi pekerti tidak saja di lakukan dengan mengenal seperangkat ajaran dan petunjuk – petunjuk mengenai laku utama , akan tetapi perlu disertai pula dengan usaha menelusuri , memetri hal – hal yang telah dilakukan oleh para leluhur dan para sesepuh , bagaimana semua mereka itu mendarma baktikan dirinya bagi kesejahteraan masyarakat , bangsa dan negara .

Dengan cara itu kita tidak saja mengenal ajaran tersebut secara formal , akan tetapi juga mengenal dan mendalami jiwa dan alam pikiran yang membentuk ajaran itu , serta melihat suri teladan yang telah ada dan nyata , sehingga tergugah hati untuk napak tilas mengikuti tauladan para leluhur , para sesepuh dan para pendahulu – pendahulu kita itu . Ajaran budi pakerti bukanlah ajaran teori Abstrak , akan tetapi ajaran yang di gali dari pengalaman  penglaman hidup di lakukan dalam penghayatan dan pengamalan yang nyata .

21. Unsur – Unsur yang terdapat di dalam kebathinan :

       Menurut Prof. M.M. Joyodiguno , SH ada 4 unsur  dalam kebathinan yaitu antara lain :

  • Budi pekerti luhur , amal saleh , moral dan akhlak atau etika atau filsafat tingkah laku .
  • Sangkan paraning dumadi , atau  filsafat tentang kaweruh  ada  ( kaweruh hana  atau ontologi ) .
  • Ilmu Ghaib , Kawijayan , Kanuragan atau okultisme .
  • Manunggaling kawulo Gusti  atau mistikisme atau Tassawuf . ( 14 )

22.  Sifat – sifat  Kebathinan  .

  • Bersifat “ Bathin “  yaitu sifat yang dipergunakan sebagai keunggulan terhadap kekuatan lahir , peraturan dan hukum yang diharuskan dari luar oleh pendapat umum.
  • Hubungan erat antara para warganya , mereka bersatu karena merupakan paguyuban kesatuan ini diwujudkan pada beberapa tingkat , mereka mempunyai pandangan hidup yang sama dan diperkuat dengan pertemuan – pertemuan rutin .
  • Sifat keaslian , yang merupakan ciri khas dari aliran kebathinan , suka melakukan pengasingan  diri di tempat tertentu (atau) berkelompok dengan warganya sendiri .
  • Faktor akhlak sosial atau budi luhur , dengan seringnya terdengar berita demokratisasi , kemrosotan akhlak , korupsi dan sebagainya seolah – olah nilai moral dan kaidah etik tidak lagi diindahkan oleh manusia . Hal ini menimbulkan protes dalam kalangan kebathinan . ( 15 ) .

23.  Tentang Mistik .

Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia .

Ialah suatu proses yang bertujuan memenuhi keinginan atau hasrat manusia untuk mengalamai dan merasakan bersatunya emosi dengan Tuhan atau kekuatan transenden lainnya . Penganut mistik percaya bahwa di balik realitas yang nyata ada realitas yang lebih tinggi , yang merupakan kebenaran sesungguhnya . Mereka yakin bahwa Tuhan meliputi segala sesuatu di alam ini , termasuk diri manusia , sehingga orang dapat mencari kebenaran dan pengertian tentang Tuhan melalui diri sendiri . ( 16 )

24. Proses – proses Mistik .

      Peranan proses – prosese mistik ini di uraikan oleh Mangkunegoro VII dari Surakarta dan di terjemahkan serta diberi anotasi oleh Cliere Hot . Dalam anotasinya , ia merangkum 4 macam samadi ( semedi ) yang di bedakan oleh Mangkunegoro VII sebagai berikut :

  • Untuk tercapainya tujuan – tujuan sementara yang bersifat distriktif melalui sihir .
  • Untuk peningkatan kekuatan yang amat besar supaya tercapainya tujuan – tujuan positif tertentu .
  • Untuk mengalami tersingkapnya rahasia ada .
  • Untuk sama sekali melepaskan diri dari keinginan – keinginan duniawi . ( 17 )

25. Tingkat – tingkat jalan panjang  menuju kehadirat Tuhan YME .
 Ir.Mulyono menyebutkan ada tingkatan atau jalan panjang yang harus di tempuh oleh
 manusia  yang sedang  berusaha menuju ke hadlirat Tuhan YME ada lima jalan  yaitu :

  • Sembah raga   , ………………… (   syariat .   )
  • Sembah kalbu , ………………… (   tarekat     )  .
  • Sembah jiwa   , ………………….(   hakekat    )  
  • Sembah rasa   , …………………. (  ma’rifat    )    
  • Cinta  suci      , …………………..(  mahabbah )

Setelah seseorang dapat melaksanakan pada tahapan – tahapan sembah Kalbu dan sembah jiwa tersebut diatas secara sempurna maka barulah manusia  sampai kepada tahapan :

  • Sembah rasa , yaitu arif ( wicaksana ) sudah dapat menerima dan mengetahui pengetahuan ke Ilahian  .
  • Cinta suci , sebagai menerima kasih sayang – Nya serta bersatu dengan – Nya  (mahabbah )
  • Al – fana dan Al Bawa , atau mati raga , yaitu menghilangkan sifat manusia .
  • Karena kemauan yang sangat keras serta di landasi dengan kesucian / keikhlasan yang tinggi , maka di bukanya tabir mata hati sanubari bertemu dengan Cahaya  Tuhan atau mendengar sabda – sabda Ilahi .
  • Manunggal ( mystical union ) dari berdialog . ( 18 )

26.  Kaweruh .

Berbicara mengenai kaweruh adalah berbicara mengenai epistemologi , yaitu mengenai pengetahuan tentang sisitem – sisitem pengetahuan . setiap kebudayaan , setiap alam pikiran entah secara eksplisit , tentu mempunyai sisitem epistemologi yang mendukungnya . Sistem epistemologi tersebut biasanya  mempunyai kaitan dengan sisitem pengetahuan mengenai kaidah – kaidah dan norma – norma yang mengatur alam semesta (ontologi ) . Ditinjau dari jumlah  kata – kata saja , bahasa jawa mempunyai amat banyak istilah tentang pengetahuan seperti misalnya : weruh , ngerti , sumurup , tanpa , nampa ngrasa , pana , kaweruh , pangrasa , dunung  dan lain sebagainya lagi . Semua itu menunjukkan betapa telah terjadi proses observasi yang tekun dan cermat mengenai pengetahuan , sampai – sampai orang dapat membentuk istilah – istlah yang masing – masing mempunyai nuansa dan spesifikasi  sendiri – sendiri .

Adapun mengenai kaweruh ini di dalam alam pikiran jawa yang paling penting di dalam kaitannya dengan soal kasunyatan , sangkan paran , dan kasampurnan , adalah adanya pembedaan anatara kaweruh laihir dan kaweruh bathin , ngelmu lahir dan ngelmu bathin . Kaweruh lahir adalah pengetahuan yang obyeknya adalah daya – daya lahiriah  sepertinya mengenal alam , pranata mangsa , dan juga termasuk hal kanuragan ( olah kekuatan fisik manusia ) . Kaweruh bathin adalah kaweruh yang obyeknya adalah hal – hal bathin dan daya – daya yang di gunakan adalah daya – daya batin , seperti misalnya kaweruh mengenai hidupdan kehidupan , kaweruh kasukman , kaweruh mengenai hubungan anatara manusia dan Tuhan .

27. Kasunyatan .

Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia jilid 8 , di situ disebutkan dengan istilah Kasunyatan sejati , yaitu laku dan ilmu tertinggi dalam menghayati dan memahami hakekat hidup . Hal ini dikemukakan dalam Kawruh Bimasuci gubahan Ki.Yasadipura I yang mengisahkan perilaku Bima sebagai lambang ajaran rahasia menuju kahanan jati , yaitu kasunyatan sejati  ( mengetahui hal sebenarnya ) ( 19 ) .

Kasunyatan menurut A.M.W. Pranarka berasal dari kata nyata , yang artinya : sungguh  sungguh , betul- betul ada atau terjadi . kata sunyata kadang – kadang dikaitkan dengan kata sunyi , senyap , sehingga kasunyatan dan sunyi diartikan awang – uwung . Oleha karena kata kasunyatan dan sunyi diartikan awang – uwung , kosong , yang bersifat semesta diartikan sebagai keadaan semesta sebelum Tuhan menciptakan dunia dan segala isinya . Kasunyatan kadang – kadang juga dipergunakan untuk terjemahan kata veritas atau waarheid yang artinya kebenaran .

Adapaun tolok ukur serta pangkal tolak dari kasunyatan  adalah hidup dan kehidupan . Hidup adalah pengalaman dasar paling jelas , paling konkrit . Segala pandangan dan ajaran untuk dapat di terima atau di akui dan diapakai sebagai pegangan , perlu dikonfrontasikan dengan hidup dan kehidupan sebagai kasunyatan . Di sini tentu saja bukan definis mengenai hidup dan kehidupan melainkan hidup dan kehidupan sebagai pengalaman. .

Adapun pengertian seutuhnya ialah “ laku Kasunyatan iku laku kasumpurnan  , laku kasumpurnan iku marga wus tekan . Buktine wus krasa , amarga wus bisa mijil , mijil kuwi ya wus bisa miji . Miji kalawan Maha Suci , Miji iku ya lebure kawula Gusti sing ana penjenengan – ingsun Kagungan karsa Hananira Hanaingsun “ .

28. Sangkan Paraning Dumadi .

Kata sangkan artinya asal sementara , paran berarti tujuan , Sangkan menjawab pertanyaan dari mana , paran menjawab pertanyaan mau kemana . Ada dua hal yang amat pokok yang diangkat dari analisa sankan paran itu

Pertama  : Dari adanya pakarti becik dan pakarti lawannya becik , diangkatlah kesimpulan bahwa hidup dan kehidupan itu rekanya dipengaruhi oleh dua daya : yaitu daya baik dan daya yang tidak baik .

Kedua    : Hidup itu berakhir dengan kematian dan kematian itu tidak dapat di tentukan oleh manusia .

Dalam hal lahir dan mati , manusia sesungguhnya hanya Sadermo , tidak menentukan sendiri , manusia ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa . Kata dumadi berasal dari suku kata dadi . Dumadi kadang – kadang di tafsirkan sebagai makhluk ciptaan . Dalam hubungan ini tidak keliru memandang ajaran itu sebagai ajaran mengenai ciptaan , mengenai makhluk . Namun dari tradisi yang ada kata dumadi yang terdiri dari akar kata dadi itu lebih menunjuk kepada arti yang sewajarnya yaitu proses terjadinya sesuatu . Dadi artinya menjadi atau terjadi . Dumadi adalah prosese dari menjadi atau terjadi tersebut . Kata yang akhiranya dapat di pakai untuk memperjelas istilah dumadi tampaknya adalah kata evolusi . Dumadi mengandung didalamnya arti gerak , putaran , maka kata dumadi di dalam tradisi kaweruh lazim pula dihubungkan dengan kata gumelae , yang akar katanya adalah gelar , artinya terbentang , bentangan yang bergerak .

29.  Kasampurnan .

Dari kata purna yang berasal dari bahasa Sansekerta artinya utuh , lengkap penuh . dalam bahasa Indonesia dikenal kata sempurna dan kesempurnaan , namun kata purna juga berarti selesai , rampung dan tidak jarang berarti meninggal , mati . kata kasampurnan menjadi istilah yang penting di dalam perkembangan kaweruh bathin . Kasampurnan menunjuk kepada kesempurnaan ,keutuhan , sebagai hal yang dituju oleh suatu proses dumadi . Evolusi bergerak menuju kepeda kepenuhan . Di dalam kenyataan konkrit kepenuhan tersebut berarti mati , karena dengan kematian maka proses dumadi itu tampaknya selesai . Memasuki alam kasampurnan berarti memasuki alam sesudah kematian . Tidak jarang kaweruh kasampurnan diartikan sebagai kaweruh mengenal alam sesudah kematian . Kaweruh kasampurnan juga sering disebut sebagai kaweruh mengenai Tuhan .

Disini kata kasampurnan menjadi penting untuk mendapatkan gabungannya dengan istilah dumadi dan istilah hurip , di dalam atau melalui kaweruh ini orang berusaha nggayuh kasampurnaning hurip atau kasampurnaning dumadi . Dengan pengertian ini ruang lingkupnya berjalinan baik dengan alam purwa , alam madya maupun alam wasana . Dengan perkataan lain kaweruh kasampurnaning dumadi itu adalah untuk nggayuh supaya dari sampurna , artinya berusaha menjadi sempurna . Dalam konteks inilah maka kasampurnan itu  dapat terjadi di alam purwa , alam madya , maupun alam wasana .

Selain dari pada itu kata kasampurnan mempunyai interprestasi yang tidak tunggal . Sampurna dapat di artikan sesuai dengan kodratnya ,  ngepasi kodrat , hal ini mengandung arti sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Tuhan sebagai pencipta segala dumadi , karena kodrat adalah diciptakan oleh Tuhan . Dengan demikian maka menjadi dan memenuhi kodrat berarti memenuhi kehendak Tuhan . ( 20 ) .

30. Kesimpulan .

      Dari berbagai uraian tersebut di atas , maka kini sampailah kita kepada kesimpulan , adapun butir – butir kesimpulan yang di maksud ialah :

  • Bangsa Indonesia adalah bangsa yang percaya sekaligus menghayati ajaran Ketuhanan . Di dalam penghayatan itulah penghayat senantiasa menedekatkan dirinya secara terus menerus dan berkesinambungan kepada Sang Pencita . Di dalam penghayatan itu dikenal pula apa yang disebut laku ( tapa , sesirik ,matiraga ) sebagai cara untuk memahami ajaran yang dikenal dengan  Ngelmu Bathin .
  • Oleh karena itulah kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah merupakan Budaya Spiritual Bangsa Indonesia . Sebab budaya spiritual itu dikenal pula dengan budaya bathin yaitu budaya atau daya kesadaran potensi yang memberi dorongan untuk prilaku menuju kepada kesempurnaan hidup , kembali kepada Sangkan Paran Budaya bathin itu pada hakekatnya indentik dengan tuntunan spiritual yang di alami oleh para penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

      Demikianlah makalah ini kami sampaikan kepada para peserta pertemuan  di dalam rangka memahami kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagaimana mestinya , semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita sekalian .

      Sebagai akhir kata kami mengucapkan terimakasih serta stiap saat kami bersedia menerima kritik dan saran atau pendapat yang konstruktif , sebab bagaimanapun makalah ini  masih jauh dari Kesempurnaan ,  Sekian dan Terimakasih .

      Dengan sesanthi :  “ Memayu Hayuning Bawono  “

      Rahayu  , Rahayu , Rahayu  .

                                                                                            Surakarta  , 19 Mei  2010

                                                                                              Ketua Umum / Sesepuh

                                                                                     PAGUYUBAN PURNOMO  SIDI
                                                                                             PUSAT  – SURAKARTA.

                                                                                  KRAT. H. Kailani Djailani Hadinagoro

CATATAN CUPLIKAN .

 

1.   Drs. Suradi Harjoprawiro :  
      “ Kepercayaan terhadap Tuhan YME Pembinaan dan Perananya Dalam Pembangunan “
      Departemen Pendidikan dan Kebudayaan R.I. Th. 1994 / 1995 .

2.   Arymurty, SE .
      “ Seri  Pembinaan “ Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan R.I. Th.1987 .

3.    Drs. K. Permadi , SH .
        “ Pandangan Aliran Kepercayaan terhadap islam   “ Departemen Pendidikan dan Kebu
          dayaan R.I. Ditjenbud . Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan
          YME . Th.1992 / 1993 hal.5 .

4.   M. As’ad El  Hafidy .
       “ Aliran – aliran Kepercayaan dan Kebathinan di Indonesia “ Chaha Indonesia, hal 86 – 87

5.   Rahmat Subagya .
      “ Kepercayaan Kebathinan , Kerohanian , Kejiwaan dan Agama “ Penerbit Yayasan 
         Kanisius , hal 34 .

6.   G.Dwipayana , Ramadhan KH.
       “ Soeharto , Pikiran dan Tindakan saya “ PT. Citra Lamtoro Gung  Persada 1989, hal.311

7.   Prof.Dr.Usman Pelly .
      “ Pengamalan Budaya Spiritual Dalam Pembentukan Budi Luhur Bangsa “ Kerta Kerja di
         Sampaikan di dalam sarasehan Pembinaan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME
         Kanwil Depdikbud Propinsi Sumatera Utara 1993 .

8.   Ceramah Menteri Agama Prof.Dr.Mukti Ali .
      “ Peranan Agama di dalam Pemangunan Nasional “ dan di dalam buku “ Simbolisme dan
        Mistikisme dalam Wayang “ Oleh Ir.Sri Mulyono , hal 64 dan 66 .

9.   Sufa’at M .
      “ Berapa Pembatasan tentang Kebathinan di Indonesia “ Penerbit Kota Kembang ,
        Yogyakarta hal. 9 .

10.  Ir.Sri Mulyono .
       “ Wayang dan Karakter Manusia “ Gunung Agung Jakarta , hal. 111.

11.  I. Kuntara Wiryamartana SJ,
       Pemahaman Kebathinan Jawa Dalam Rangka Hidup Rohani Kristen , di dalam Buku
       Pustaka Teologi Wahyu , Iman Kenathinan , Editor JB.Banawiratma  SJ . Penerbit Kanisius
       hal.63 .

 12. I. Kuntara Wiryamartana SJ .
      “  Pemahaman Kebathinan Jawa dalam Rangka Hidup Rohani Kristen “ di dalam Buku 
         Wahyu Iman , Kabatinan “ hal. 63 .

 13.  Darmanto Yatman .
       “ Jawa iku Nggone Roso “ , Suara Karya 22  Pebruari 1988 .

 14.  Ir.Sri Mulyono .
       “ Simbolisme dan Mistikisme dalam “ Wayang “ Penerbit Gunung Agung hal. 63 .

 15.  Ceramah Menteri Agama Prof.Dr.Mukti Ali .
       “ Peranan Agama di dalam Pembangunan Nasional  “

  • Ensiklopedi Nasional Indonesia , Jilid.10 , PT.Cipta Adi Pustaka 1990 , hal.337 .
  • Niels Mulder .
    “ Kebathinan hidup sehari – hari orang jawa , kelangsungan dan perubahan Kultulir “
      Gramedia , jakarta , hal.25, 26 .
  • Ir.Sri Mulyono .
    “ Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang “ hal.59 dan 61 .
  • Ensiklopedi Nasional Indonesia , jilid 8 , PT.Cipta Adi Pustaka Jakarta , 1990 .
  • A.M.W. Pranarka .
    “ Kasunyatan , Sangkan Paran , Kasampurnan “ mengangkat Pemikiran Bapak. Soedjono
      Hoemardhani dalam Studi  Analitikal , CSIS , Jakarta .

                                                       * * * * * * * * * * * *

DAFTAR  RIWAYAT HIDUP

1. N a m a                       :  KRAT.H.Kailani Djailani Hadinagoro .
2. Tempat / Tgl.Lahir       :  Surakarta , 27 Agustus 1945
3. Agama                        :  I s l a m .
4. Pekerjaan                    :  Wiraswasta .
5. Alamat                         :  Jalan Kedunglumbu ( Senopati ) Rt,03 Rw.06 Kel.Kedunglumbu
                                           Kec.Pasar Kliwon  Tlp . 0271 – 632925  Surakarta. 57113

6. Jenis Kelamin             :  Laki – laki .

7. Keluarga                     :  a. Sudah kawin
                                          b. Nama isteri  Hj.Lestari Kailani
                                          c. Anak  6 ( enam )
                                          d. Cucuk 7 ( tujuh )

8. Pendidikan                  :  a. Akademi Jurnalistik  Surakarta  ( Th.60 ) di Pagelaran Ska .
                                          b. Ponpes Shalafiyah  , Ponpes Al – Faqih  Selo Purwodadi .
                                          c. Autodidak

9. Pengalaman  Pribadi   :  a. Pelaku Spiritual  Budaya Jawa  mulai dari  Th.1970 sampai pada
                                               sekarang .
                                          b. Mengikuti  Seminar / Pembinaan tentang  Kebudayaan dan Adat
                                               Nusantara di Jakarta .
                                          c.  Sarasehan Penghayat Kepercayaan Tingkat Nasional di Bali .
                                          d.  Sarasehan Penghayat Kepercayaan & Adat Nasional di Makasar .
                                          e.  Ceramah  Penghayat  Kepercayaan  terhadap Tuhan Y.M.E  pada
                                                acara “ Malam Selasa Kliwonan di Taman Mini Indonesia Indah
                                                Jakarta .
                                          f.  Mengikuti Seminar Menelisik Jejak Sejarah Pajang di tinjau dari
                                                Aspek  Budaya  dan  Sosial  Kemasyarakatan  , di selenggarakan
                                                Oleh Institut Seni Indonesia ( ISI ) Surakarta .

10. Organisasi                 :  a. Ketua HPK – Himpunan  Penghayat  Kepercayaan  terhadap
                                               Tuhan yang Maha Esa – Kota Surakarta .
                                           b. Ketua Umum / Sesepuh Organisasi  Paguyuban Purnomo Sidi
                                               Pusat  Surakarta .
                                           c. Ketua Departemen Pengkajian Budaya
                                               Dewan Pimpinan Pusat  –  Jam’iyah Ahli Thoriqoh Muktabaroh
                                               Indonesia ( JATMI )  Jakarta .
                                           d. Pembina Pondok Pesantre Al – Faqih di Kauman Selo Purwodadi
                                               Grobogan .
                                           e. Ketua Kordinator Sarasehan Malam Selasa Kliwonan di Bangsal
                                               Smarakata Karataon Surakarta Hadiningrat .

11. Website                     :  www.purnomosidi.or.id