Riwayat Kelahiran Organisasi Paguyuban Purnomosidi

A . Riwayat diperolehnya Ajaran .

Dengan memanjatkan segala puja dan puji serta rasa syukur ke Hadlirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan Taufiq , Hidayah dan Rahmat Nya kepada kita semuanya dan khususnya juga kita panjatkan doa ke Hadlirat Tuhan Yang Maha Esa atas jasa – jasa para Sesepuh / Guru Panuntun yang selalu memberikan petunjuk serta memberikan bimbingan kepada terbentuknya Paguyuban Purnomo Sidi Pusat Surakarta , mudah – mudahan beliau selalu diberikan tempat yang sebaik – baiknya disisi Tuhan Yang Maha Esa , Amien

Dalam kesempatan yang berbahagia ini Paguyuban Purnomo Sidi Pusat Surakarta dapat kesempatan untuk memaparkan tentang riwayat perjalanannya serta kegiayatan yang telah dilakukan oleh Paguyuban Purnomo Sidi di dalam kehidupannya di tengah tengah masyarakat . Sebenarnya suatu beban berat bagi saya untuk membicarakan tentang hal riwayat di perolehnya Ajaran seperti judul diatas , di tengah – tengah para pemerhati laku spiritual bahkan mungkin para tokoh – tokoh spiritual serta para pribadi yang saya anggap sudah jauh lebih mengerti dari pada saya tentang hal perjalanan seseorang dalam penempaan Laku spiritual secara pribadi yang hubungannya antara manusia sebagai hamba serta makhluk yang diciptakan oleh Allah , Tuhan Yang Maha Kuasa , dengan Allah yang menciptakannya . Namun karena saya kebetulan menjadi Ketua Paguyuban Purnomo Sidi serta dituakan oleh para kadhang kadhang saya maka terpaksa saya membranikan diri untuk mengemukakan riwayat perjalanan saya dalam memperoleh suatu Ajaran itu .

Dalam hal ini saya tidak akan menyatakan atau mengakui bahwa apa – apa yang saya paparkan di sini adalah hasil dari diri saya sendiri , sama sekali tidak . Apa yang saya haturkan di sini tentunya merupakan hasil dari bimbingan para Sesepuh yang telah saya anggap sebagai Guru Panuntun Laku dalam hidup saya , sehingga di dalam perjalanan itu ( mundi Dawuh dari Sang Guru ) saya telah banyak mengalami dengan berbagai kejadian , peristiwa Alam dan peristiwa Ghaib , hanya sayangnya ke dua Guru atau Sesepuh yang saya cintai serta saya hormati dan saya bangga banggakan itu telah di panggil dan menghadap kepada Tuhan Yang Maha Agung .

Sekali lagi , dalam hal ini apa yang saya paparkan mungkin sama sekali bukan hal yang baru buat para pemerhati Laku Spiritual maupun para pribadi – pribadi yang saya hormati , oleh karena itu anggaplah apa yang saya paparkan di sini hanyalah merupakan sebuah Fenomena untuk mengingatkan kembali “Kenangan Laku” Namun seandainya ada diantara para hadirin ada yang menganggap apa yang kami sampaikan ini ternyata merupakan hal yang baru untuknya , maka anggaplah apa yang saya sampaikan di sini hanya sebagai sebuah ” ajakan kepada kadhang kadhang untuk memahami bersama ” .

Saya sejak muda telah terbiasa atau selalu diajarkan oleh Almarhum orang tua saya melakukan sebuah Laku pribadi di rumah ialah dengan melakukan Laku Puasa senen kemis serta hari – hari tetentu , dan selain itu juga banyak di ajarkan oleh orang tua kami tentang hal Laku Tassawwuf dan juga beberapa kegiatan – kegiatan setelah Sholat wajib ialah membaca Wiridan sampai ribuan , dan itu telah saya laksanakan setiap saat juga selain dari itu pula saya selalu diajak serta di bimbing ke makam makam para Ulama – Ulama serta juga tidak ketinggalan ziarah ke makam para Wali sembilan , dan hal itupun di laksanakan hampir tiap – tiap tahun saya selalu diajak bersama – sama kedua orang tua saya untuk selalu pergi berziarah . Di dalam saya banyak melakukan Laku pribadi pada saat itu saya belum dapat merasakan sesuatu perubahan perubahan yang ada di sekitas saya mapun perubahan rasa yang timbul dari dalam diri saya sendiri , apakah memang saat itu saya yang masih tumpul atau mungkin masih terbawa dengan adanya nafas – nafas kepemudaan saya itu sebab pada saat itu saya memang di kampung Kauman Solo agak juga termasuk salah seorang anak yang tidak pernah ketinggalan di dalam ulah per ” mbelingan “ alias ugal – ugalan akan tetapi itu terjadi di luar rumah tanpa sepengetahuan dari kedua orang tua saya .

Perjalanan kehidupan saya saat itu agaknya memang kurang beruntung dibandingkan dengan kehidupan dari teman – teman sebaya saya yang perjalananya banyak mengalami kemajuan pesat di dalam sekolahnya maupun menuju cita – citanya , dan kalau diri saya sendiri tetap saja tidak ada sesuatu yang berubah atau naik , malah yang jelas banyak turunnya . Memang saya telah menyadari tentang keberadaan nasib seseorang diri saya itu oleh karena pada saat sebelum pecahnya Pemberontakan G.30 S PKI sampai selesainya saya terlalu banyak berkecimpung di dalam kegiayatan operasi bersama pemuda – pemuda Garuda Pancasila serta membantu aparat TNI khususnya di PEKUPER Surakarta (Pelaksana Kuasa Perang) Brigif 04 Ska .

Dalam pertengahan tahun 1975 saya telah mengalami sesuatu ke goncangan bathin yang hampir berkepan jangan sebagai sebuah penyakit perasaan ialah saya selalu merasa kebingungan serta kekakacauan fikiran dan suatu kejengkelan yang tidak menentu arahnya dan pada pertengahan tahun 1977 berkat dari pertolongan ayah saya , saya lalu di bawa kepada seorang temannya di Desa Plaosan Prambanan yang bernama Mbah Pawiro yang beliau salah seorang Tokoh sesepuh di Desa itu dan seterusnya saya mengikuti seluruh ajaran laku serta Wejangan – Wejangan yang di berikan kepada saya serta pada tiap – tiap malam saya di bimbing untuk mengadakan laku berendam ( kungkum ) semalam di sungai selatan Candi Prambanan dan lain lain .

Dalam beberapa saat saya mendapat bimbingan Ilmu serta beberapa petunjuk dari Mbah Pawiro sakit yang saya derita itu telah sembuh total dan malah terasa diri saya tambah segar bugar serta perasaan yang bermacam – macam itu sudah tidak timbul lagi dan telah hilang semuanya . Dan mulai saat itu saya di perintahkan untuk memulai mengerjakan laku Lelono yang pertama kalinya ialah saya di suruh kembali pulang ke solo dan mengadakan Laku sendiri di Sitihinggil Pagelaran Keraton Surakarta tepatnya di bekas makam Kyai Ageng Solo ( di pojok sebelah utara barat dalam Sitihinggil ) dan juga selain itu saya pada setiap – tiap malam diatas pukul : 24.00 di suruh melakukan mandi malam atau gebyur di sumur tua yang letaknya di sebelah timur Sitihinggil sebanyak 99 kali gebyuran sampai saya sendiri nantinya akan mendapat Dawuh dari Ghaib . Dan selain itu Guru saya juga memberikan pesan ( Dawuh ) dengan saya bahwa mulai saat saya melaksanakan Laku lelono itu tidak di perkenakan lagi saya datang ke rumah Mbah Pawiro di Plaosan Prambanan sebelum nantinya ada panggilan sendiri dari Mbah Pawiro .

Maka tepat pada hari Sabtu Legi Tgl. 2 Desember 1978 ( pada bulan Suro ) saya mulai melaksanakn Dawuh untuk Laku Tirakatan di makam Kyai Ageng Solo Sitihinggil Keraton Surakarta Hadiningrat yang pertama kalinya serta hanya dengan bekal suatu wajangan singkat dari Mbah Pawiro diantaranya sbb :

•  Di mulai harus dengan niat yang kuat , Ikhlas dan senang .

•  Selama di dalam Laku Tirakatan di larang keras membicarakan hal hal yang tidak senonoh / berguna serta harus dapat menjaga diri dari godaan lingkungan ( dari orang laki – laki maupun dari wanita yang kebetulan juga laku di tempat tsb ) .

•  Di dalam Laku / Meditasi di makam Kyai Ageng Solo di larang keras untuk memintak – mintak kepada Arwah dan di wajibkan memohon kepada Tuhan YME hanya dengan mengucap ” Mohon ampun semua kesalahan dan kekhilafan hidup kepada Tuhan Yang Maha Esa ” di ucapkan berkali – kali sampai tertidur bersandar di pohon .

•  Di dalam mandi setiap malam tetap pada penyuwunan kepada Tuhan YME dan stetelah itu baru melakukan Mieditasi dengan disertai Wirid tanpa henti hentinya .

•  Tetap bertahan dari segala kejenuhan serta kebosanan dalam Laku dan selalu menjaga bathin yang bersih , dan setiap hari sampai sore melakukan puasa sampai kepada saatnya .

•  Tidak diperbolehkan meninggalkan tempat selama belum mendapat Dawuh dari Ghaib .

Alhamdulillah dalam waktu hampir dua bulan yang bertepatan jatuh pada malam selasa kliwon saya setelah melakukan mandi malam seperti biasanya lalu mengerjakan Wiridan , dan saat itu badan saya terasa agak kurang enak saperti akan kena sakit flu dan juga terasa sangat mengantuk sekali , akan tetapi bagaimanapun jadinya saya tetap berusaha menegakkan Dawuh dari Simbah .

Dan seterusnya saya seperti biasanya lalu duduk bersila dengan bersandarkan pohon yang di bawah makam Kyai Ageng Solo , dan tanpa terasa setelah beberapa saat saya dalam keadaan wirid itu saya seperti tertidur lalu bermimpi bertemu dengan seorang tua yang mirip seperti seorang kerabat dari dalam Keraton yang mengenakan busana Kejawen berwarna serba hitam dan selanjutnya beliau berkata kepada saya :

” Bahwa saya disuruh melanjutkan perjalanan Laku lelono besuk pada hari kelahiran saya untuk menempuh Ilmu Kemurnian Jiwa ke arah timur yang tempatnya diatas Cemoro Alas (Hutan Cemara) namanya Pringgondani dan nantinya akan menemui tempat yang terang dan hening bersama alam ”

Pada suatu hari tepatnya pada hari Jum’at Pon ( hari weton kelahiran ) saya mulai melakasanakan Dawuh yang saya terima itu untuk berangkat ke arah Tawangmangu , dan sesampainya di Terminal Tawangmangu saya bertanya dengan seorang penyewa Kuda dan menanyakan hal tempat untuk Laku yang namanya Pringgondani dan seterusnya saya di beritahu kalau masih jauh ke arah timur di daerah Blumbang (sebelah timur Tawangmangu ) . Saat itu hari sudah mulai sore dan saya terus berjalan ke arah timur dan kebetulan juga hari itu tidak ada kendaraan atau mobil angkutan yang jalan ke timur.

Dengan jalan terus menanjak serta dengan rasa kepayahan dan di iringin kabut yang tebal akhirnya saya sampailah di tempat Punden Pringgondani yang keadaan di sekitar Punden Pringgondani tersebut sangat gelap dan sepi sekali pada saat itu yang ada hanya sebuah bangunan yang terbuat dari batu sungai serta beratapkan seng yang sudah banyak berlobang , dan di dalam Punden itu hanya ada seorang yang sudah berumur sedang Laku sendirian yang katanya berasal dari Ngawi Jatim . Maka mulailah saya betul – betul merasakan Laku Tirakatan dengan rasa yang tenang serta jauh dari keramaian kota bahkan di tambah kalau pada waktu malam udaranya yang sangat dingin sekali sampai hampir tiap – tiap malam saya selalu membuat perapian untuk menghangatkan badan , dan lebih – lebih kalau pada tengah malam saya selalu melakukan secara rutin laku mandi malam di Sendang temanten ( sesuai dengan Dawuh dari Guru saya Mbah Pawiro ) yang airnya juga cukup mendidih dinginnya itu .

Selama beberapa bulan saya berada di Pringgondani saya sudah beberapa kali mengadakan laku Khusus (Laku Ngebleng / Puasa pati geni) di goa Semar itu dan di dalam Goa itulah saya yang petama kali menerima suatu bisikan dari sesuatu Ghaib yang membisikkan kedalam telinga saya dengan suara yang lirih tetapi sangat jelas sekali , dan suara bisikan itu ialah ” Lakuho Mucuk “ serta memberikan suatu tanda tanda isyarat kepada saya bahwa kalau saya dapat melanjutkan Laku di Puncak Argo Dhalem Gunung Lawu maka beliau yang telah membisiki suara kepada saya itu akan selelu terus menemaninya .

Maka dengan adanya bisikan yang telah saya terima itu pada waktu tengah malam (malam jum’at Kliwon ) , pada pagi harinya saya lalu membawa seluruh perlengkapan dan perbekalan saya untuk segera berangkat pagi – pagi menuju ke Cemoro Sewu dan seterusnya lalu naik ke Puncak Lawu lewat Cemoro kandang sendirian , situasinya saat itu sangat sepi sekali tidak bertemu satu orang pun dan selain itu juga sebenarnya saya sendiri belum pernah sama sekali naik ke Puncak Lawu , dan pada saat pendakian naik ke Puncak saya di tengah – tengah jalan terpaksa berhenti sebentar di karenakan jalan setapak yang saya ikuti sudah mulai hilang oleh karena lebatnya rumput – rumput hutan itu . Di dalam saya mulai merasakan kesulitan untuk mencari jalan setapak itu , lalu tiba – tiba saya mendengar suara bisikan di dalam telinga saya yang mengatakan kalau saya di suruh kembali lagi ( jalan turun ) dan kalau sudah menemui suatu petigaan jalan kecil saya di suruh belok ke kanan (jalan naik) dan itu adalah jalan yang benar menuju ke Puncak , akan tetapi seandainya perjalan saya tadi saya teruskan maka saya akan sampai di pinggiran kawah Gunung Lawu yang terletak posisinya di perut Gunung lawu dengan rasa semangan serta dengan hati yang senang oleh karena telah mendengar lagi bisikan Ghaib yang ke dua itu seterusnya saya dapat sampai di Argo Dhalem Puncak Gunung Lawu dengan lancar dan selamat .

Singkatnya dari perjalanan saya menempuh laku di Gunung Lawu itu telah banyak mengalami suatu dawuh Ghaib yang bermacam – macam antara lain saya pernah pada suatu ketika mendapat Dawuh di suruh menjaga di Punden Argo Dhalem ( di puncak Gunung Lawu ) beberapa bulan ( termasuk saat itu pada bulan Suro ) oleh karena hampir seluruh lereng hutan selatan ke barat di Gunung Lawu terbakar ( Ke bakaran hutan Gunung lawu yang pertama kali pada Tahun 1982 ) . Dan selain itu juga saya telah menerima Dawuh selanjutnya untuk membangun sebuah Punden Raden Bancolono tepatnya di pinggir jurang Kali Asad Cemoro Sewu ( Perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur ) dan juga selain itu saya juga telah melaksanakan Dawuh untuk membuat sebuah bak air yang berukuran lebar satu meter dan panjang dua meter di pinggiran jurang sebelah timur kali Asad Cemoro Sewu yang tadinya tidak ada sesuatu apa – apa tetapi setelah selesai dari pembuatan bak air itu lalu tahu tahu pada pagi harinya di pojok pinggir atas bak air itu telah mengeluarkan air yang begitu derasnya dan seterusnya saya menerima lagi Dawuh kalau di suruh memberikan sebuah nama dengan nama ” Sendang – Lanang “ yang khasiat airnya banyak di ambil oleh orang – orang untuk pengobatan sakit Perut dan sakit sesak nafas dan lain – lainnya .

Dan mulai saat pembangunan Punden berakhir saya hampir setiap hari berada di Cemoro Sewu bersama teman – teman Laku saya yang datang dari berbagai kota di jatim maupun dari kota Solo sendiri , sehingga Punden R.Bancolono itu pada setiap hari banyak di kunjungi orang – orang luar kota yang pada berdatangan untuk mengadakan laku tirakatan serta mengadakan mandi malam di Sendang lanang secara bergantian dst.

Pada malam bulan Suro Tahun 1983 saya kembali telah mendapat Dawuh dari sebuah mimpi di dalam Punden Cemoro Sewu bahwa perjalanan Laku saya itu masih harus menempuh lagi kepada Sesepuh (untuk mencari sesepuh / Guru yang ke. 2) di Gemolong Sragen yang dalam Dawuh itu di tunjukkan alamatnya di depan Setasiun Salam Gemolong ada jalan masuk sedikit dan di situlah Sesepuh / Guru saya nantinya yang terakhir . Pada suatu hari setelah saya menerima Dawuh dari Cemoro Sewu lalu kami kembali pulang ke rumah (Solo ) dan secara kebetulan juga teman lama kami yang sudah lama tidak pernah bertemu yang bernama Bapak . Pramoe Koesoemo telah datang di rumah kami dengan tujuan akan menjenguk tentang keberadaan kami selama tidak pernah bertemu lagi itu dan seterusnya juga saya secara pribadi menceriterakan tentang hal Dawuh yang baru saja kami terima dari Cemoro Sewu itu kepada beliaunya tentang hal saya yang harus mencari seseorang Sesepuh / Guru yang selama ini kami belum pernah mendengarnya atau mengenalnya sama sekali yang beralamatkan di depan Setasiun Salam Gemolong ada jalan masuk .

Dengan terkejut Bapak Pramoe Koesoemo setelah mendengan cerita saya itu lalu beliaunya mengatakan bahwa apa yang saya cari itu beliau adalah Sesepuh / Gurunya Bapak Pramoe Koesoemo sendiri yang bernama Eyang Kyai Mustaqim Subari , dan saat itu juga saya diajak oleh Pak Parmoe langsung berangkat ke gemolong dengan naik mobilnya . Sesampainya saya bersama Pak Pramoe Koesoemo di rumah Eyang Mustaqim Subari dan saya belum sempat duduk ( bersila ) Pak Pramoe Koesoemo lalu di tegur oleh Eyang Mustaqim Subari ” Lho Mu (Pak Pramoe Koesoemo) kowe kok nggowo bocah ko Gunung lawu , lan iki opo yo arep melu neng kene ? Dengan saya mendengar apa yang telah di katakan oleh Eyang Mustaqim itu saya sangat terkejut dan kagum dengan Kawaskitan Eyang Mustaqim Subari yang begitu hebat itu “ dan seterusnya Pak Pramoe melaporkan dengan Eyang Mustaqim Subari hal keadaan saya secara detailnya , lalu Eyang Mustaqim memberikan jawaban kalau memang Eyang Mustaqim Subari sudah dapat berita (Berita Ghaib) dari Sunan Lawu sebelum saya datang itu kalau akan ada seorang cucuknya dari Gunung Lawu yang akan di titipkan kepada Eyang Mustaqim untuk di didik sebagai muridnya yang terakhir .

Maka seterusnya saya selalu mengikuti segala petunjuk dan bimbingan serta Dawuh dari Eyang Mustaqim Subari untuk melaksanakan laku yang lebih Extrem lagi sepertinya saya telah mendapat Dawuh yang pertama dari Eyang Mustaqim untuk mandi di Lumpur yang kotor serta Dawuh Laku di Pantai Sembukan Pracimantoro Wonogiri beberapa hari di sana dan pada tiap malam saya di suruh duduk Meditasi dengan telanjang bulat di tepi tebing pantai yang sangat curam itu , yang katanya Eyang Mustaqim kalau saya nantinya akan mendapat tugas di kawasannya Kanjeng Putri Ratu Kidul , jadi saya selain terus menerus mendapat bimbingan serta melaksanakan laku yang aneh – aneh dari Eyang Mustaqim itu saya tetap ke dawuhan untuk selalu berada di Cemoro Sewu sebagai pembina dari teman – teman saya yang sedang melakukan laku Tirakatan di Cemoro Sewu dan selain dari itu juga sesuai Dawuh dari Eyang Mustaqim bahwa kami berada di Cemoro Sewu itu hanya bersifat sementara saja sebagai melaksanakan adanya pernatan jaman untuk diri pribadi saya ialah

” MULAINYA LAKON DADI LAKU – LAKU DADI LAKON “ .

Sampai akhirnya pada suatu saat saya telah mendapat suatu dawuh pernatan dari Eyang Mustaqim Subari bahwa kelompok saya Laku yang di Cemoro Sewu itu untuk segera dapatnya di buat sebuah wadah Paguyuban yang khusus menampung orang orang yang suka / gemar dengan Laku Tirakatan dan selanjutnya kaparingan sebuah nama ” Purnomo Sidi ” , sebab menurut pendapat Eyang Mustaqim bahwa Laku (Mersu Budhi ) itu merupakan Sumber daya pembangkit bagi perkembangannya Budaya di Indonesia yang nantinya akan mengimbangi Jagad raya Nuswantara dari perkembangan apa saja , akan tetapi jika nantinya kalau terjadi kurang berimbangnya dengan Laku , Indonesia akan kejangkitan penyakit bubrah dalam pernatannya. Sedangkan nama Purnomo Sidi oleh Eyang Mustaqim Subari merupakan suatu Simbol Alam ( Bulan Purnama ) sebagai penerangan kepada siapa saja dan di mana saja tanpa memandang derajat , pangkat , rupa , serta martabat yang tidak menyengat tetapi malah dapat menjadikan suwasana pendingin bagi siapa saja yang duduk di bawahnya bersama alam sekitarnya .

Yang akhirnya dengan doa serta restu dari Eyang Mustaqim Subari , pada tanggal 10 Maret 1992 pukul : 10.00 pagi saya bersama bebarapa kadhang mengahdap kepada Notaris Soehartinah Ramli , SH Surakarta untuk membuat Akata pendirian Paguyuban Purnomo Sidi dan telah tercatat dalam Akte Notaris nomor : 11 .

Demikianlah secara ringkasnya perjalanan saya dalam menempuh Laku (Mersu Budhi ) melaksanakan petunjuk serta Dawuh – Dawuh dari Sesepuh atau Guru saya yang penuh saya hormati serta saya bangga – banggakan itu dan seterusnya beliau Almarhum Eyang Kyai Mustaqim Subari merupakan sebagai Pepunden Agung bagi seluruh para kadhang – kadhang dan warga besar Paguyuban Purnomo Sidi sampai sekarang ini .

Dan amanat terakhir Almarhum Eyang Kyai Mustaqim Subari kepada saya ( di dalam kamar pribadinya ) sebelum beliau Wafat kurang satu minggu sebagai berikut :

  1. Wargamu sing podo rukun lan podo sabar .
  2. Netepono wajibe dhamaning urip .
  3. Nglelurihono poro leluhuring bongso .
  4. Ojo ngowahi pernatanine sing gawe urip .
  5. Ojo nganggit sing dudu sakmestine .
  6. Dadiyo opo wae ning ojo ninggalake budoyone .
  7. Kabeh isine donyo mung sak penganggep .

 

Almarhum Eyang Kyai Mustaqim Subari wafat pada hari Rabu Legi Tanggal 16 Februari 1994 pukul : 05.00 (5 H. 1414 / 5 Poso Th.Je.1926) di Gemolong serta di makamkan di makam bolong Gemolong kabupaten Sragen .

Dengan demikian Paguyuban Purnomo Sidi telah di harapkan untuk dapatnya melaksanakan Dharma baktinya kepada Nusa dan Bangsa yang sesuai dengan apa yang telah di harapkan oleh Pepunden Agung kita dalam menindak lanjuti sikap dan tindakan serta prilaku kehidupan sehari – hari dengan berpedoman wejangan wejangan serta wasiat dari Almarhum Eyang Kyai Mustaqim Subari yang merupakan pedoman hidup bagi seluruh warga Paguyuban Purnomo Sidi di mana saja berada dan tidak hanya akan relevan di masa kini , tetapi juga akan tetap selalu relevan di masa masa yang akan datang . Akhirnya , Allah Yang Maha Esalah yang paling tahu atas segala – galanya .

Terimakasih dan RAHAYU.